Oleh Ustad.Abd.Rahmansyam,S.Pd.I
Lailatul Qadar bukanlah malam yang bisa “diburu” dengan strategi hitung-hitungan, apalagi dengan pola hadir dan absen dalam ibadah seperti seorang ninja yang hanya muncul di waktu tertentu.
Ia bukan hadiah bagi mereka yang sekadar mengincar malam ganjil tanpa kesungguhan sejak awal. Lailatul Qadar adalah anugerah agung yang hanya akan menyapa hati-hati yang berjaga, bersiap, dan beristiqamah sepanjang Ramadan.
Sering kali kita terjebak pada cara berpikir praktis: datang ke masjid pada malam ke-21, lalu absen pada malam berikutnya, kembali lagi pada malam ke-23, dan seterusnya.
Ketika ditanya mengapa tidak hadir, jawabannya sederhana, “Ini bukan malam ganjil.”
Cara pandang seperti ini mereduksi kemuliaan Ramadan menjadi sekadar perhitungan kalender. Padahal, boleh jadi Lailatul Qadar justru diberikan kepada mereka yang tekun sejak awal, yang menjaga ritme ibadah tanpa terputus, yang memaknai setiap malam Ramadan sebagai peluang perjumpaan dengan rahmat Allah.
Dalam ajaran Islam, waktu memiliki nilai-nilai istimewa. Dalam setiap pekan ada hari yang dimuliakan, yaitu hari Jumat. Dalam setiap hari ada saat-saat mustajab, seperti sepertiga malam terakhir ketika doa-doa lebih dekat untuk dikabulkan.
Dalam setiap tahun ada bulan yang penuh keberkahan, yakni Ramadan. Bahkan dalam ruang dan tempat pun terdapat kemuliaan tersendiri; salat di Masjidil Haram dilipat gandakan pahalanya hingga seratus ribu kali dibandingkan masjid lain, dan salat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan yang besar.
Ini menunjukkan bahwa Allah menyedia kan momentum-momentum istimewa agar manusia mampu melompat lebih jauh dalam kualitas spiritualnya.
Lailatul Qadar adalah salah satu puncak dari seluruh momentum itu. Ia adalah waktu yang istimewa, yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Namun keistimewaannya tidak berdiri sendiri. Ia hadir dalam rangkaian hari-hari Ramadan yang juga mulia.
Maka orang yang benar-benar ingin meraihnya tidak akan bersikap setengah hati. Ia tidak menunggu sepuluh malam terakhir untuk mulai serius. Ia membangun fondasi sejak hari pertama Ramadan, menata niat, memperbaiki ibadah, memperbanyak tilawah, menjaga lisan, dan membersihkan hati.
Ramadan disebut sebagai sayyidusy syuhur, pemimpin segala bulan, karena di dalamnya nilai kebajikan dilipat gandakan. Setiap amal saleh diberi ganjaran yang berlipat. Setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabul kan. Setiap dosa memiliki pintu ampunan yang terbuka lebar.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ” seandainya umat mengetahui seluruh keistimewaan Ramadan, niscaya mereka berharap sepanjang tahun adalah Ramadan. Di dalamnya berkumpul segala ketaatan, segala peluang pengampunan, dan segala pintu rahmat.”
Momentum istimewa bukan hanya dikenal dalam agama. Dalam kehidupan bernegara pun ada hari-hari tertentu yang memiliki makna khusus, ketika pemimpin memberikan amnesti atau pengurangan hukuman kepada sebagian narapidana.
Jika dalam urusan dunia saja ada waktu-waktu yang membawa keringanan dan pengampunan, maka apalagi dalam urusan akhirat yang dijanjikan langsung oleh Allah Yang Maha Pengasih.
Karena itu, Lailatul Qadar tidak layak disikapi dengan mentalitas spekulatif. Ia menuntut kesiapan jiwa, konsistensi amal, dan kesungguhan hati.
” Barang siapa yang menjaga Ramadan sejak awal, ia sedang membangun jalan menuju malam agung itu. “
Dan jika pun ia tidak mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadar datang, sesungguhnya ia tetap beruntung, karena seluruh malamnya telah dipenuhi dengan ibadah.
Ramadan adalah madrasah kesadaran waktu. Ia mengajarkan bahwa setiap detik memiliki nilai, setiap malam memiliki peluang, dan setiap amal memiliki balasan.
Maka janganlah kita menjadi pemburu kesempatan yang malas, tetapi jadilah hamba yang istiqamah. Sebab boleh jadi, Lailatul Qadar tidak hanya turun pada malam tertentu, tetapi ia turun kepada hati yang paling siap menerimanya.
#Semoga bermanfaat #
