Dr. Nursalim, S. Pd., M. Pd
(Alih Bahasa dan Peneliti Bahasa Indonesia Provinsi Kepulauan Riau)
Ramadan tidak sekadar menghadirkan pengalaman biologis berupa lapar dan dahaga, melainkan membentuk ruang pendidikan batin yang mendalam. Di dalamnya, manusia ditempa bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara linguistik.
Puasa, dalam makna yang lebih luas, adalah latihan pengendalian diri yang menjadikan bahasa sebagai salah satu medan utama pembinaan karakter.
Dalam tradisi berbuka puasa dan bersahur yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, tersimpan nilai-nilai peradaban lisan yang relevan sepanjang zaman.
Berbuka puasa yang dianjurkan untuk disegerakan ketika waktu Magrib tiba bukan sekadar tindakan praktis, melainkan simbol kedisiplinan dan ketepatan.
Ketepatan waktu mencermin kan ketepatan sikap, dan ketepatan sikap berkelindan dengan ketepatan berbahasa.
Dalam konteks ini, bahasa tidak boleh tergesa-gesa, namun juga tidak boleh terlambat menyampai kan kebenaran. Ia harus hadir secara proporsional, sebagaimana waktu berbuka hadir pada detiknya yang sah.
Doa yang dipanjatkan saat berbuka memuat ekspresi syukur, pengakuan atas kelemahan manusia, dan kesadaran akan rahmat Ilahi.
Bahasa di sini menjadi media spiritual yang menghubungkan dimensi lahir dan batin, sekaligus membangun kesadaran etis dalam diri penuturnya.
Sahur, di sisi lain, adalah momentum keheningan yang sarat makna. Dalam suasana yang lebih tenang sebelum fajar, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.
Di ruang hening inilah bahasa mengalami proses penyucian. Tidak ada hiruk-pikuk retorika, tidak ada ambisi untuk didengar, yang ada hanyalah niat dan kesadaran. Sahur mengajarkan bahwa sebelum berbicara kepada dunia, seseorang perlu berdialog dengan hati nuraninya.
Kesederhanaan menu sahur yang dicontohkan Nabi mengandung pesan simbolik bahwa kesederhanaan juga harus mewarnai pilihan kata dan struktur kalimat.
Bahasa yang berlebihan sering kali kehilangan makna, sementara bahasa yang jernih dan sederhana justru menghadirkan kekuatan.
Puasa juga mendidik manusia untuk menahan diri dari ucapan yang sia-sia. Dalam perspektif sosiolinguistik, pengendalian lisan merupakan fondasi terciptanya harmoni sosial. Konflik sering kali bermula dari kata yang tidak terjaga.
Oleh karena itu, Ramadan menghadir kan latihan kolektif untuk menyaring ujaran, mengendalikan emosi, dan mengganti amarah dengan kesantunan.
Menahan diri dari kata-kata kasar atau provokatif bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan berbahasa.
Di sinilah puasa membentuk manusia beradab, yang memahami bahwa setiap kata memiliki konsekuensi moral.
Bahasa selama Ramadan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen transformasi diri. Ia menjadi cermin kejernihan hati dan kematangan berpikir.
Ketika seseorang mampu mengucapkan doa dengan penuh kesadaran, menahan diri dari celaan, serta memilih kata-kata yang menenangkan, sesungguhnya ia sedang membangun peradaban kecil dalam dirinya. Peradaban itu bertumbuh dari disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab moral terhadap setiap ujaran.
Dengan demikian, tradisi berbuka dan bersahur menurut sunnah dapat dipahami sebagai proses pendidikan bahasa yang sangat subtil namun fundamental.
Ia melatih ketepatan, kejujuran, kesederhanaan, serta etika komunikasi yang luhur. Ramadan pada akhirnya bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga madrasah peradaban lisan.
Di dalamnya, manusia belajar bahwa menjaga bahasa sama pentingnya dengan menjaga ibadah itu sendiri, sebab melalui bahasa, nilai-nilai spiritual menemukan bentuknya dalam kehidupan sosial.
