Oleh Dr. Nursalim, M.Pd
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa Sastra Budaya Seni dan Desain
Provinsi Kepulauan Riau (APEBSKID KEPRI)
Asal Turatea lautnya biru,
Tinggal di Batam merajut kata.
Masa berganti membawa restu,
Orangnya tetap putra Turatea.
Tulisan ini hadir sebagai sebuah renungan panjang mengenai perjalanan manusia serta dinamika kepemimpinan yang terus bergerak dalam putaran zaman.
Ungkapan “setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya” bukan hanya petuah lama yang sekadar disampaikan turun-temurun, melainkan gambaran jujur tentang bagaimana kehidupan bekerja.
Segala yang ada pada manusia berupa jabatan, kedudukan, pengaruh, hingga popularitas semuanya memiliki masa, dan tidak satu pun yang kekal bersemayam selamanya.
Kita hidup dalam arus perubahan yang tak pernah berhenti. Di tengah hiruk-pikuk itulah manusia sering lupa bahwa setiap peran yang disandang hanyalah titipan waktu.
Hari ini seseorang berada di puncak, esok ia mungkin berjalan di bawah; bukan karena gagal, tetapi karena masanya telah bergeser.
Pemimpin yang bijaksana memahami bahwa masa jabatan bukan arena mempertahankan diri, tetapi ruang untuk memberi manfaat sebanyak mungkin.
Ketika tiba masanya memimpin, ia menjalankannya dengan kesungguhan; ketika masa itu usai, ia menyerahkannya dengan lapang dada.
Dalam setiap pergantian, kehidupan sosial menemukan keseimbangannya. Generasi tua datang membawa kedalaman hikmah dan pengalaman yang teruji oleh waktu.
Generasi muda hadir dengan energi baru, keberanian, dan kecenderungan melihat masa depan secara lebih terbuka. Dua kekuatan ini bukan untuk saling menghapus, tetapi saling menopang.
Regenerasi yang sehat seperti pergantian musim: masing-masing membawa makna, dan semuanya diperlukan.
Namun ketika proses pergantian itu tertahan oleh ambisi pribadi, keengganan melepas kursi, atau ketakutan kehilangan pengaruh, maka stagnasi bisa terjadi. Organisasi kehilangan arah, masyarakat kehilangan kepercayaan.
