JENEPONTO, Aliefmedia .co.id – Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bone dan Wajo XVIII Tahun 2026, 26 cabang olahraga (Cabor) Jeneponto pertanyakan anggaran Porprov yang dikelola KONI Jeneponto.
Anggaran porprov untuk puluhan atlet yang akan berangkat ke Wajo dan Bone sebagian besar belum juga cair hingga kondisi persiapan atlit terganggu.
“Kami berusaha kak, sampai hari ini teman-teman cabor yang sudah berangkat duluan ke Wajo dan Bone itu sudah kami berikan dananya. Tapi kostum seragam belum datang”, ujar Sekretaris KONI Jeneponto, Aroel. Rabu, 4/11/2026 di Gedung KONI Jeneponto malam.
Kostum seragam baik devile dan untuk atlet rencananya tiba dari Bandung di Makassar pada hari Kamis (5/11/2026) dan dibagikan saat Kamis sore Ke tiap cabor. Tambah Aroel yang juga aktivis HMI.
Sementara itu, Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Kabupaten Jeneponto, Andriani sayangkan sikap Pengurus inti KONI Jeneponto Ketua, Sekretaris dan Bendahara (KSB) yang dianggap game over.
“Game over KONI terutama KSB, anggaran diperuntukan tidak pada tempatnya dan diduga habis sebelum digunakan. Kalang kabut saat dibutuhkan, contoh kecil baju defile, hari ini baru tiba karena baru juga ditebus pelunasannya, padahal ini bukan kebutuhan mendadak tapi anu lamamo nurencanakan”, jelas Andriani di grup WA Pejuang Olahraga.
“Cabor Jeneponto menuju jurang kehancuran 2026-2030”, sambung Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Kabupaten Jeneponto, Andriani.
Salah satu mantan Pengurus KONI Jeneponto, Dr.Yasriuddin M.Pd juga angkat suara.
“Pengurus KONI Kab.Jeneponto berikan Penjelasan semua Cabor yang lolos PORPROV, buktikan bahwa kita bisa mengatasi masalah tanpa masalah, sebagaimana Motto Pegadaian”, tuturnya.
Rasa resah kini tengah melanda seluruh pengurus cabang olahraga (cabor) hingga para atlet. Ketidakjelasan anggaran tersebut bahkan berdampak langsung pada penurunan intensitas latihan para atlet menjelang pertandingan.
“Resah! Kita tidak bisa pungkiri itu, rata-rata cabor sampai ke atlet itu resah. Mereka kini tidak intens melakukan latihan karena kurangnya anggaran. Jangankan atlet, pelatih dan Ketua cabor saja ini terganggu psikologinya gegara ini,” ungkap salah satu atlit.
Kami ingin transparansi, jangan sampai ada cabor yang di istimewakan. KONI Jeneponto, harus ingat, jangan sampai keringat kami kering hanya demi nama baik Bupati Jeneponto. Pungkas nya. (Andi Zulkarnaen)


