Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
(Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau)
Di ufuk selatan Sulawesi, di tanah yang dilingkupi laut dan langit yang bening, terhampar sebuah ruang batin yang tak pernah lekang dari ingatan. Tanah itu bernama Turatea, sebuah kawasan yang menyimpan jejak sejarah, kearifan, dan kemuliaan budi.
Bagi sebagian orang, Turatea mungkin sekadar nama geografis. Namun bagi saya, ia adalah ruang jiwa, tempat sukma berakar dan kenangan bertunas.
Di sanalah nilai-nilai kehidupan ditenun seperti kain sutra yang bersulam emas, indah bukan karena gemerlapnya, tetapi karena makna yang terkandung di dalamnya. Turatea bukan hanya bentang alam, melainkan bentang peradaban.
Di sana, tradisi dan adat bertaut dengan keimanan. Setiap langkah kaki seakan menyentuh jejak leluhur yang menanam kan harga diri dan kehormatan sebagai prinsip hidup.
Masyarakatnya memegang teguh nilai siri’ na pacce, suatu etos moral yang menjunjung martabat dan solidaritas. Nilai itu bukan sekadar petuah lisan, tetapi menjadi napas dalam setiap interaksi sosial.
Dalam bahasa, dalam sikap, dalam cara menyambut tamu dan menghormati orang tua, semuanya memancarkan kehalusan budi yang diwariskan turun-temurun. Di tanah Turatea pula, bahasa tumbuh sebagai penyangga identitas.
Dialek Turatea dalam bahasa Makassar memiliki keunikan fonologis dan leksikal yang menjadi penanda kebanggaan kolektif. Bahasa bukan hanya alat tutur, tetapi simbol keterikatan emosional dengan tanah kelahiran.
Setiap kata yang terucap menghadirkan rasa pulang, menghadirkan kedekatan dengan leluhur yang dahulu merajut peradaban melalui lisan dan tulisan. Dalam bahasa itu tersimpan doa, nasihat, dan harapan yang disampaikan dari generasi ke generasi.
Sejarah Turatea tak dapat dilepaskan dari jejak panjang kerajaan dan perjuangan. Wilayah ini berada dalam lingkup sejarah Kabupaten Jeneponto yang dahulu menjadi bagian penting dalam dinamika politik dan budaya Sulawesi Selatan.
Warisan itu menjadikan Turatea sebagai simpul pertemuan antara tradisi maritim dan agraris. Tanahnya subur oleh kerja keras, lautnya luas oleh keberanian para pelaut. Perpaduan itu melahirkan karakter masyarakat yang tangguh sekaligus santun.
Keindahan Turatea bukan hanya pada lanskap alamnya, tetapi pada lanskap batinnya. Sawah yang menghampar hijau, angin laut yang berbisik lembut, dan cahaya senja yang keemasan seolah menjadi metafora bagi jiwa masyarakat nya yang terbuka dan hangat.
Bersulam emas bukan berarti kemewa han materi, melainkan kekayaan nilai. Emas itu adalah kejujuran, keteguhan iman, dan kesetiaan pada adat. Emas itu adalah kebersahajaan yang tidak tergoda oleh gemerlap dunia.
Sebagai insan yang menapaki jalan pendidikan dan kebudayaan, saya memandang Turatea sebagai sumber inspirasi yang tak pernah kering.
Dari tanah itulah saya belajar tentang arti hormat, tentang pentingnya menjaga tutur kata, dan tentang makna tanggung jawab terhadap warisan leluhur.
Bumi Turatea mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus memutus akar, bahwa modernitas dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi. Identitas bukan beban masa lalu, melainkan fondasi untuk melangkah lebih jauh.
Di tengah arus globalisasi yang kian deras, ingatan tentang Turatea menjadi jangkar yang meneguhkan arah. Ketika dunia berubah dengan cepat, nilai-nilai yang ditanamkan oleh tanah kelahiran tetap menjadi penuntun.
Sukmaku selalu kembali pada tanah itu, pada aroma laut dan hamparan ladang, pada suara azan yang menggema di antara perbukitan. Di sana, saya menemukan makna pulang yang sesungguhnya.
Turatea adalah bagian dari diri yang tak terpisahkan. Ia bukan sekadar tempat, tetapi jiwa yang bersulam emas, berkilau oleh ketulusan dan kehangatan. Selama nilai-nilai itu tetap dijaga, selama bahasa dan budaya terus dirawat, Turatea akan tetap hidup dalam sukma, menjadi cahaya yang menuntun perjalanan hidup menuju kemuliaan.
