Makassar, Aliefmedia.co.id — Menteri Sosial Republik Indonesia, Drs. H. Saifullah Yusuf, secara resmi membuka Apel Siaga Bencana dan Konsolidasi Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) se-Provinsi Sulawesi Selatan yang berlangsung pada 25–29 Oktober 2026 di Lapangan Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan.senin 26/10/2026 pukul 19.45 WITA.
Turut hadir dalam acara tersebut Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaeman Sekda Provinsi Sulawesi Selatan,Para Bupati se Sulawesi Selatan,para Kepala Dinas Sosial se Sulawesi Selatan.Tagana SE Sulawesi Selatan serta undangan lainnya.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kapasitas teknis, serta mempererat koordinasi dan solidaritas relawan Tagana dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Sosial menegaskan bahwa relawan Tagana memiliki peran strategis dalam mendukung upaya penanggulangan bencana, terutama melalui pelayanan kemanusiaan, dukungan logistik, penyediaan dapur umum, edukasi kebencanaan, serta pendampingan masyarakat terdampak.
Dalam sambutannya, Saifullah Yusuf menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota Tagana yang selama ini telah menunjukkan dedikasi dan semangat pengabdian dalam membantu masyarakat.
“Saya menyampaikan rasa bangga kepada teman-teman Tagana. Pengabdian yang dilakukan selama ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap sesama. Terima kasih karena terus hadir membantu masyarakat dan menjalankan tugas kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Oleh karena itu, apel siaga dan konsolidasi relawan tidak boleh dipandang sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai sarana untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, menguji keterampilan, serta meningkatkan kemampuan personel di lapangan.
Adapun rangkaian kegiatan diisi dengan perlombaan keterampilan dan kekompakan, aksi bakti sosial, donor darah, serta sosialisasi Sekolah Rakyat Aman Bencana.
Mensos Tekankan Lima Arahan bagi Relawan Tagana
Menteri Sosial menyampaikan sejumlah hal penting yang harus menjadi perhatian seluruh personel Tagana.
Pertama, memperkuat kesiapsiagaan dan kemampuan teknis.
Setiap personel Tagana harus memahami tugas, prosedur keselamatan, komunikasi darurat, evakuasi, pertolongan awal, dan koordinasi di lapangan. Latihan secara berkala diperlukan agar relawan mampu bertindak cepat, tepat, dan terukur.
Mensos mengingatkan bahwa niat menolong harus disertai pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar relawan tidak justru membahayakan dirinya sendiri maupun menambah risiko bagi orang lain.
Kedua, menjunjung tinggi disiplin dan satu komando.
Menurutnya, koordinasi merupakan kunci keberhasilan penanganan bencana. Setiap relawan harus memahami tugas dan kewenangannya serta mengikuti arahan petugas yang berwenang.
Dalam operasi kebencanaan, Tagana harus bersinergi dengan unsur TNI, Polri, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta instansi terkait lainnya.
Tagana dapat mendukung proses evakuasi sesuai penugasan, menyiapkan kebutuhan logistik, mengoperasikan dapur umum, dan membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Ketiga, mengutamakan kemanusiaan dan pelayanan tanpa diskriminasi.
Mensos meminta seluruh relawan hadir untuk membantu siapa pun yang membutuhkan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, perempuan, dan masyarakat yang mengalami hambatan akses.
Pelayanan harus diberikan dengan empati, rasa hormat, serta tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi masyarakat.
Keempat, menjadikan edukasi kebencanaan sebagai gerakan bersama.
Edukasi perlu diperluas melalui sekolah, keluarga, komunitas, dan lingkungan masyarakat. Pemahaman mengenai risiko bencana, jalur evakuasi, titik kumpul, komunikasi darurat, dan langkah penyelamatan dasar harus terus ditanamkan melalui sosialisasi dan simulasi berkala.
Dalam hal ini, Tagana diharapkan berperan aktif sebagai edukator dan mitra masyarakat untuk membangun budaya sadar bencana, termasuk mendukung terwujudnya Sekolah Rakyat Aman Bencana.
Kelima, memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Mensos mengajak pemerintah daerah, dinas sosial, perangkat daerah terkait, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, komunitas, dan masyarakat untuk memperkuat kerja sama dalam kesiapsiagaan maupun penanganan bencana.
Menurutnya, kekuatan relawan akan semakin besar apabila seluruh unsur bergerak bersama, saling mendukung, dan menjalankan peran sesuai tanggung jawab masing-masing.
Tagana Didorong Mendukung Sekolah Rakyat Aman Bencana
Secara khusus, Saifullah Yusuf memberikan perhatian terhadap sosialisasi Sekolah Rakyat Aman Bencana. Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi peserta didik, guru, dan seluruh warga sekolah.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah di Sulawesi Selatan dalam pengem bangan Sekolah Rakyat, termasuk keterlibatan Tagana pada tahap awal perintisan program tersebut.
Mensos menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan.
Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi dan meraih masa depan yang lebih baik.
Ia mencontohkan capaian peserta didik Sekolah Rakyat di Makassar yang telah berhasil meraih prestasi pada Olimpiade Sains Nasional bidang matematika.
Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa dengan kesempatan, pendampingan, dan pendidikan yang berkualitas, anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat mengembang kan kemampuan secara optimal.
Dalam konteks kebencanaan, Mensos berharap Tagana dapat mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman melalui edukasi, pendampingan, serta pengenalan prosedur penyelamatan kepada warga sekolah.
Relawan Harus Mengutamakan Keselamatan dan Informasi Terverifikasi
Pada kesempatan tersebut, Menteri Sosial juga mengingatkan agar relawan tidak mengambil risiko yang tidak diperlukan ketika menjalan kan tugas kemanusiaan.
Selain itu, relawan diminta tidak menyebarkan informasi mengenai bencana sebelum kebenarannya dipastikan melalui sumber yang dapat dipercaya dan koordinasi dengan pihak berwenang.
Menurutnya, relawan yang tangguh bukan hanya mereka yang cepat hadir di lokasi, tetapi juga mereka yang mampu memberikan pertolongan secara aman, efektif, terkoordinasi, dan bertanggung jawab.
Mensos berharap pemerintah daerah di Sulawesi Selatan terus memperkuat dukungan terhadap Tagana, baik melalui pembinaan, pelatihan, pemenuhan kebutuhan operasional, maupun pelibatan relawan dalam perencanaan kesiapsiagaan dan penanganan bencana.
“Menjadi relawan adalah panggilan pengabdian. Namun, semangat itu harus disertai pengetahuan, keterampilan, etika, dan kepedulian. Relawan yang tangguh adalah relawan yang mampu menolong dengan aman dan efektif,” tegasnya.
Dihadiri Jajaran Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan
Apel Siaga Bencana dan Konsolidasi Relawan Tagana se-Sulawesi Selatan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala daerah dan perwakilan pemerintah daerah, di antaranya Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Nasir Ali, Bupati Pangkajene dan Kepulauan Muhammad Yusran, Wakil Bupati Toraja Utara Andrio dan Silambi, Wakil Bupati Luwu Timur Puspawati, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.
Hadir pula jajaran Dinas Sosial dan Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, termasuk Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan Andi Erwin Darwo, bersama para peserta apel dan anggota Tagana dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Sosial berharap kapasitas dan kesiapsiagaan relawan Tagana semakin kuat sehingga mampu mendukung sistem penanggulangan bencana yang terkoordinasi dan berorientasi pada keselamatan serta kebutuhan masyarakat.
Tagana diharapkan terus hadir dalam seluruh tahapan kebencanaan, mulai dari sebelum bencana, saat tanggap darurat, hingga setelah bencana, sebagai bagian dari penguatan perlindungan sosial dan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat.
(Liputan khusus Aliefmedia Nasional)


