Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
(Ketua Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia)

Kabupaten Jeneponto adalah ruang hidup yang kaya akan nilai, sejarah, dan potensi sosial keagamaan. Masyarakat Turatea sejak lama dikenal religius, memiliki ikatan sosial yang kuat, serta mewarisi etos kerja yang lahir dari pergulatan panjang dengan alam dan sejarah.

Modal sosial ini sejatinya merupakan kekuatan besar untuk membangun daerah. Namun dalam dinamika pembangunan nasional yang bergerak cepat, Jeneponto masih dihadapkan pada berbagai ketertinggalan di sejumlah sektor strategis.

Realitas ini tidak semestinya dipandang sebagai kelemahan yang harus disesali, melainkan sebagai pijakan reflektif untuk menata arah pembangunan secara lebih jujur, terukur, dan berkelanjutan.
Pembangunan Jeneponto perlu diletakkan pada kesadaran bahwa manusia adalah pusat dari seluruh proses perubahan.

Infrastruktur fisik, sebaik apa pun, tidak akan membawa makna jika tidak diiringi oleh kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi fondasi utama pembangunan daerah.

Pendidikan tidak boleh dipahami sebatas proses administratif menghasilkan ijazah, melainkan sebagai ikhtiar membentuk karakter, etos kerja, dan daya pikir kritis masyarakat. Sekolah, madrasah, dan pesantren harus diperkuat perannya agar mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerahnya sendiri.

Di bidang ekonomi, Jeneponto sesungguhnya memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya terkelola secara optimal. Pertanian, peternakan, dan kelautan merupakan denyut nadi kehidupan masyarakat.

Tantangan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada rendahnya nilai tambah dan lemahnya sistem pengelolaan. Pembangunan ekonomi harus diarahkan pada pemberdayaan rakyat, dengan menempatkan petani dan peternak sebagai subjek utama pembangunan.

Pendampingan berkelanjutan, akses permodalan yang adil, serta pengembangan produk olahan berbasis potensi lokal menjadi keharusan agar kesejahteraan tidak hanya tumbuh, tetapi juga merata.

Pembangunan infrastruktur tetap memiliki peran strategis, namun harus dipahami sebagai sarana pelayanan publik dan penggerak aktivitas ekonomi, bukan sekadar proyek fisik.

Infrastruktur yang dibangun harus membuka keterisolasian desa, memperlancar distribusi hasil produksi, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan perlu mendengar suara rakyat agar infrastruktur benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan dan menjadi jembatan menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkeadilan.
Kemajuan Jeneponto juga sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola pemerintahan.

Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang dipercaya oleh rakyatnya. Aparatur negara harus bekerja dengan profesionalisme, integritas, dan kepekaan sosial.

Ketika birokrasi hadir sebagai pelayan masyarakat yang adil dan transparan, kepercayaan publik akan tumbuh, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan akan semakin menguat. Kepercayaan inilah yang menjadi modal sosial paling berharga dalam mendorong kemajuan daerah.

Dalam konteks masyarakat Jeneponto yang religius, pembangunan tidak dapat dilepaskan dari peran dakwah dan nilai-nilai keagamaan. Agama bukan hanya sumber ritual, tetapi juga sumber etika sosial, moral publik, dan arah peradaban.

Dakwah harus diarahkan pada penguatan akhlak, etos kerja, kejujuran, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda.

Dakwah yang menyejukkan, membumi, dan solutif akan menjadi kekuatan transformasi mental dan budaya masyarakat.

Di sinilah posisi strategis Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia sebagai lumbung muballigh umat menemukan relevansinya. Yayasan ini tidak sekadar menjadi wadah kelembagaan, tetapi berfungsi sebagai pusat pembinaan, pengkaderan, dan penguatan kapasitas para muballigh agar memiliki kesamaan visi dan arah dakwah.

Muballigh yang lahir dari proses pembinaan yang terstruktur diharapkan tidak hanya piawai di mimbar, tetapi juga mampu menjadi pendidik, pendamping umat, serta agen perubahan sosial yang peka terhadap realitas masyarakat.

Konsep “satu arah masjid untuk semua muballigh” menjadi pijakan penting dalam menata kehidupan keagamaan masyarakat Jeneponto. Masjid harus kembali menjadi rumah besar umat, bukan ruang yang terfragmentasi oleh perbedaan latar belakang organisasi atau kepentingan kelompok.

Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia berperan sebagai simpul pemersatu, memastikan bahwa dakwah di masjid-masjid berjalan dalam satu napas, saling menguatkan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dengan kesatuan arah dakwah, masjid dapat berfungsi optimal sebagai pusat pembinaan akhlak, pendidikan umat, dan penguatan solidaritas sosial.

Dalam pembangunan sosial, dakwah memiliki peran yang tidak tergantikan. Berbagai persoalan masyarakat, mulai dari rendahnya etos kerja, lemahnya kesadaran pendidikan, problem remaja, hingga kemiskinan struktural, membutuhkan pendekatan yang menyentuh dimensi batin dan kesadaran moral.

Dakwah yang mencerahkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif, mendorong perubahan perilaku, serta membangun optimisme masyarakat untuk bangkit dan bergerak bersama.
Peran generasi muda dalam kerangka ini juga sangat menentukan.

Mereka adalah pewaris masa depan Jeneponto. Melalui pembinaan yang terarah, generasi muda dapat tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, kreatif, dan berdaya saing, tanpa tercerabut dari akar nilai keislaman dan kearifan lokal Turatea.

Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyiapkan generasi muballigh muda yang moderat, berwawasan luas, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Akhirnya, menata masa depan Jeneponto agar sejajar dengan daerah lain di Indonesia adalah ikhtiar bersama yang membutuhkan kesatuan visi, kesungguhan niat, dan kerja kolektif lintas sektor.

Dengan menjadikan dakwah sebagai fondasi pembangunan peradaban, masjid sebagai pusat penguatan umat, serta Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia sebagai lumbung muballigh yang mempersatukan arah dakwah, Jeneponto memiliki pijakan yang kokoh untuk melangkah maju. Inilah jalan panjang yang harus ditempuh bersama demi terwujudnya Jeneponto yang religius, inklusif, berkeadilan, dan bermartabat.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *