Oleh Dr. Nursalim Turatea
(Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau)
Ilmu pada hakikatnya adalah amanah spiritual. Ia bukan sekadar akumulasi pengetahuan, melainkan jalan pembentukan jiwa agar manusia semakin mengenal keterbatasan dirinya dan semakin tunduk kepada kebesaran Allah.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu selalu diletakkan berdampingan dengan adab dan penyucian hati. Tanpa adab, ilmu kehilangan arah; tanpa penyucian jiwa, ilmu berubah menjadi beban yang menyesatkan.
Fenomena inilah yang hari ini semakin terasa di tengah masyarakat terdidik: ilmu tumbuh pesat, tetapi kerendahan hati justru menipis.
Kesombongan intelektual merupakan penyakit laten dalam dunia keilmuan modern. Ia tidak hadir dalam bentuk sikap kasar, melainkan terselubung dalam klaim kebenaran tunggal, perasaan paling paham, dan keyakinan bahwa pendapat pribadi adalah representasi mutlak kebenaran.
Dalam kondisi seperti ini, ilmu tidak lagi menjadi cahaya, melainkan hijab yang menutup hati dari kehadiran Tuhan. Sejumlah kajian mutakhir menunjukkan bahwa kelebihan pengetahuan yang tidak disertai refleksi etis justru meningkatkan kecenderungan moral superiority dan judgmental attitude terhadap orang lain (Haidt, 2023:41).
Ketika seseorang merasa ilmunya lebih tinggi daripada orang lain, maka relasi sosial berubah menjadi relasi kuasa. Diskusi bergeser menjadi penghakiman, dan perbedaan pandangan diperlakukan sebagai ancaman.
Lidah fasih mengutip dalil dan teori, tetapi hati menolak nasihat. Padahal, hakikat ilmu justru menyingkapkan keluasan realitas dan keterbatasan manusia.
Semakin dalam seseorang memahami ilmu, semakin ia sadar bahwa kebenaran tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman individu. Sikap rendah hati inilah yang oleh para pemikir etika kontemporer disebut sebagai epistemic humility, yakni kesadaran bahwa pengetahuan manusia selalu bersifat terbatas dan terbuka untuk dikritisi (Kidd, 2024:67).
Ilmu yang tidak disertai tazkiyatun nafs hanya akan melahirkan keangkuhan intelektual. Pengetahuan bertambah, tetapi rasa takut kepada Allah justru berkurang.
Kitab dan jurnal dibaca semakin banyak, namun kesadaran diri semakin tumpul. Dalam konteks keislaman, kondisi ini dipandang sebagai kegagalan spiritual, karena ilmu yang benar semestinya melahirkan khauf dan tawaduk, bukan ujub dan merasa suci.
Penelitian mutakhir dalam bidang etika Islam menegaskan bahwa krisis moral kaum terdidik bukan disebabkan oleh kurangnya ilmu, melainkan oleh absennya pembinaan jiwa dalam proses pendidikan (Rahman, 2024:112).
Ilmu sejati tidak pernah melahirkan rasa superioritas. Ia justru menumbuh kan kesadaran akan kerapuhan diri dan ketergantungan total kepada Tuhan. Semakin luas cakrawala pengetahuan seseorang, semakin ia memahami bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari realitas yang sangat besar.
Inilah makna mendalam dari prinsip tawaduk yang sejak lama menjadi fondasi keilmuan Islam. Tawaduk bukan simbol kelemahan, melainkan tanda kedewasaan spiritual dan kematangan intelektual (Nasr, 2023:29).
Masalah serius muncul ketika ilmu direduksi menjadi alat untuk mengejar pengaruh, status sosial, dan pengakuan publik.
Dalam situasi ini, ilmu kehilangan orientasi transendennya dan tunduk sepenuhnya pada ego. Pendapat pribadi disakralkan, kritik dipandang sebagai serangan, dan dialog berubah menjadi arena pembenaran diri.
Fenomena ini oleh para pemikir etika modern disebut sebagai “ego-driven knowledge”, yakni pengetahuan yang tidak lagi diarahkan pada kebenaran, melainkan pada kepuasan diri dan dominasi simbolik (Sandel, 2024:88).
Kesombongan, dalam perspektif teologis, adalah sifat yang hanya layak bagi Allah. Ketika manusia mencoba mengenakannya—meskipun dibalut dengan bahasa agama dan gelar akademik—ia sedang menempuh jalan kehancuran spiritual.
Banyak orang jatuh bukan karena kebodohan, tetapi karena merasa terlalu pintar. Mereka tersesat bukan di lorong ketidaktahuan, melainkan di jalan kesombongan yang tampak rasional dan meyakinkan.
Oleh karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan mendesak bagi siapa pun yang menempuh jalan ilmu. Setiap orang berilmu perlu bertanya dengan jujur : apakah ilmu ini membuat hati semakin lembut atau justru semakin keras..? Apakah ia melahirkan empati atau memperkuat hasrat menghakimi?
Jika ilmu menjauhkan seseorang dari kerendahan hati, kasih sayang, dan rasa takut kepada Allah, maka yang bertambah sejatinya hanyalah data dan informasi, bukan hidayah.
Ilmu yang selamat adalah ilmu yang menundukkan, bukan meninggikan. Ilmu yang benar adalah ilmu yang melahirkan rasa malu di hadapan Allah dan kasih di hadapan manusia.
Pada akhirnya, kemuliaan ilmu tidak diukur dari seberapa tinggi ia mengangkat derajat seseorang di mata publik, melainkan dari seberapa dalam ia menundukkan hati di hadapan Tuhan.
Sumber Rujukan Daftar Referensi
Haidt, J. (2023). Moral psychology in a divided age. New York: Penguin Press.
Kidd, I. J. (2024). Epistemic humility and the limits of knowledge. London: Routledge.
Nasr, S. H. (2023). Islam, knowledge, and spirituality in the modern world. Chicago: Kazi Publications.
Rahman, F. (2024). Etika ilmu dan krisis moral kaum terdidik. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sandel, M. J. (2024). The tyranny of merit revisited. New York: Farrar, Straus and Giroux.
