Oleh : Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
(Ketua Fahmi Tamami Aswaja Kota Batam. Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau)
Hidup adalah rangkaian kebiasaan dan pilihan yang secara langsung membentuk kualitas jiwa, hubungan sosial, serta keberkahan yang manusia rasakan dalam keseharian.
Dalam tradisi spiritual Islam, kebiasaan bukan sekadar rutinitas formal, tetapi merupakan jalan transformasi batin yang mampu mengantarkan manusia kepada kesejahteraan hakiki dan martabat yang tinggi di sisi Tuhan dan sesama.
Empat kebiasaan yang membawa peningkatan rezeki dan kemuliaan adalah refleksi dari arti hidup yang bermakna etis, emosional, dan spiritual.
Pertama, menjaga shalat sunnah merupakan bentuk nyata dari komitmen batin terhadap Tuhan yang Maha Pemurah. Shalat fardhu menjadi fondasi spiritual, sedangkan shalat sunnah mengisi ruang-ruang kehidupan dengan kedekatan yang lebih intens kepada Allah SWT.
Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa praktik ibadah yang konsisten memiliki pengaruh positif terhadap ketenangan psikologis, pengaturan emosi, dan ketahanan mental dalam menghadapi tantangan kehidupan modern, karena praktik beragama mampu menjadi strategi pengelolaan stres yang efektif (Journal of Religion & Health, Rydz et al., 2024:4160–4162). Springer + 1
Kebiasaan kedua, yaitu memaafkan orang lain, mencerminkan kedalaman moral dan kemampuan untuk melepaskan beban emosional yang merusak hubungan sosial.
Pemaafan tidak hanya membersihkan hati dari dendam, tetapi juga memperluas kapasitas empati dan keterhubungan sosial. Ini sesuai dengan temuan jurnal psikologi sosial bahwa kapasitas religius dan budaya memfasilitasi perilaku prososial seperti forgiveness, yang pada gilirannya berkontribusi pada kesejahteraan mental dan hubungan interpersonal yang positif (Journal of Religion & Health, Rydz et al., 2024:4158–4160). Springer
Ketiga, sikap dermawan dan tidak pelit kepada mereka yang menjadi tanggung jawab kita mencerminkan hakikat kepemimpinan etis.
Dalam konteks keluarga maupun organisasi, memakmurkan yang menjadi tanggung jawab sendiri baik secara materi maupun psikologis adalah integrasi nilai spiritual dengan perilaku sosial.
Donasi, infak, dan kontribusi tanpa pamrih yang Anda sarankan dalam pesan di atas sejatinya sejalan dengan literatur yang menunjukkan bahwa prososial spending dan perilaku dermawan berhubungan erat dengan peningkatan kebahagiaan dan kepuasan hidup (contoh: efek positif dari penggunaan sumber daya untuk orang lain terhadap well-being) sebuah mekanisme yang kesadarannya mirip dengan makna sedekah dalam Islam (BMC Public Health, Wang et al., 2025:4190–4192).
PubMed Keempat, kebiasaan mendoakan orang lain, termasuk yang mungkin memiliki konflik dengan kita, mencerminkan transendensi moral.
Doa bagi orang lain bukan hanya bentuk kebaikan batin, tetapi juga sebuah strategi psikologis untuk memperkuat rasa empati, mengurangi Self-centredness, serta membuka dimensi spiritual dalam relasi sosial.
Hal ini konsisten dengan temuan penelitian cross-national bahwa religiusitas dan kapasitas memaafkan berkontribusi pada kepuasan hidup dan harapan, yang merupakan indikator psychological flourishing (Journal of Religion & Health, Rydz et al., 2024:4164–4166).
Springer Integrasi dari empat kebiasaan ini mencerminkan bagaimana religious coping dan praktik spiritual dapat berfungsi sebagai strategi adaptif dalam kehidupan kontemporer.
Teori psikologi agama modern menggarisbawahi bahwa praktik religius yang terefleksi dalam doa, ritual, dan hubungan sosial prososial (seperti pemaafan dan kemurahan hati) memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan emosional (Journal of Religion & Health, Rydz et al., 2024:4160–4168). Springer
Secara khusus, shalat sunnah bukan sekadar ritual tambahan, tetapi bentuk dialog batin yang menumbuhkan stabilitas emosional, meningkatkan ketekunan, dan merawat kesadaran akan tujuan hidup yang lebih agung dari sekadar pencapaian materi.
Di sisi lain, kebiasaan memaafkan dan mendoakan orang lain membuka ruang bagi kelegaan psikologis yang membebas kan hati dari noda amarah dan memper kuat hubungan sosial yang harmonis, sementara dermawan terhadap tanggung jawab mencermin kan nilai kontribusi sosial yang memperluas jaringan kebaikan dalam komunitas.
Ketika seseorang mempraktikkan kebiasaan-kebiasaan ini secara konsisten, ia membentuk sikap proaktif yang berakar pada spiritualitas, sehingga bukan hanya rezeki materi yang mungkin meningkat, tetapi kualitas kehidupan—hubungan, ketenangan batin, dan kemuliaan sosial—juga menjadi lebih kokoh.
Dengan demikian, kebiasaan spiritual dan moral ini bukan semata rutinitas, tetapi merupakan jalan menuju keberkahan hidup, baik lahir maupun batin.
Maka dari itu, kehidupan yang bermakna bukan sekadar diukur oleh berapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh seberapa besar kita berbagi kebaikan, menghidupi nilai moral, dan menebar rahmat kepada sesama.
Semoga setiap amal yang kita lakukan menjadi sebab bertambahnya rezeki, kesejahteraan batin, serta kemuliaan yang langgeng, baik di dunia maupun akhirat.
Daftar Pustaka (Jurnal Q1 Terbaru 2023–2025) Rydz, E., Tychmanowicz, A., & Zarzycka, B. (2024).
Religion and Satisfaction with Life in Polish Seniors: Mediation by Forgiveness and Hope, Journal of Religion & Health, 63(6), 4156–4172.
Menunjukkan hubungan religiusitas, pemaafan, dan harapan dengan kepuasan hidup. Springer Wang, C., Nie, Y., & Lan, X. (2025). Changes of Well-Being Over the Pandemic: Generational Cohort Study, BMC Public Health, 25, 489.
Temuan prososial dan religiusitas berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. PubMed Journal of Religion & Health. (2024). Spirituality and Spiritual Care Perspectives (Issue Overview). Journal of Religion & Health, 63.
Menegaskan dampak spiritual care dan religiusitas terhadap kesehatan mental kontemporer. SciSpace Journal of Religion & Health. (2024).
The Relationship between Religion, Spirituality, Psychological Well-Being, Life Satisfaction, Journal of Religion & Health, 63. Menunjukkan keterkaitan religiusitas dan kesejahteraan psikologis mahasiswa di Turki dan konteks lain.
SciSpace Journal of Religion & Health. (2024). Enhancing Spiritual Well-Being through Chaplaincy Interventions, Journal of Religion & Health, 63. Menjelaskan bahwa perawatan spiritual meningkatkan ketenangan batin dan harapan pada pasien lanjut usia.
SciSpace.
