Batam, aliefmedia.co.id – Memaknai Hari Pahlawan 10 November, Dr. Nursalim, M.Pd, Ketua APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain) Provinsi Kepulauan Riau, menyampaikan refleksi mendalam tentang arti kepahlawanan di tengah perubahan zaman.

Dalam pandangannya, semangat kepahlawanan tidak lekang oleh waktu, hanya bentuk dan ruang perjuangannya yang berubah.

“Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya,” ujarnya

membuka pesan kebangsaan yang penuh makna. Kalimat sederhana itu menjadi landasan renungan bahwa setiap generasi memiliki perannya sendiri dalam menjaga marwah bangsa.

Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan senjata melawan penjajahan, maka pahlawan masa kini berjuang dengan ilmu, kejujuran, dan ketulusan.

Menurut Dr. Nursalim, pahlawan sejati bukan hanya mereka yang tercatat dalam buku sejarah, tetapi siapa pun yang ikhlas berbuat untuk kebaikan.

“Menjadi pahlawan di zaman modern berarti berani melawan ketidakadilan, menjaga integritas, dan terus menyalakan semangat kebangsaan di tengah perubahan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa nilai kepahlawanan kini dapat ditemukan di ruang-ruang pendidikan, kebudayaan, dan sosial masyarakat.

Guru, dosen, seniman, dan penulis adalah pahlawan yang menyalakan obor peradaban agar bangsa tidak kehilangan arah.

“Mereka berjuang tanpa sorotan kamera, tanpa upacara, tapi hasilnya dirasakan oleh generasi mendatang,” tambahnya.

Dr. Nursalim menilai bahwa peringatan Hari Pahlawan harus menjadi momentum untuk menanamkan nilai keikhlasan, tanggung jawab, dan cinta tanah air kepada generasi muda.

Ia pun mengingatkan bahwa bangsa ini akan tetap kuat jika warganya memiliki kesadaran moral untuk berbuat, bukan sekadar menonton.

“Negeri ini tidak akan bertahan oleh mereka yang hanya bicara, tapi oleh mereka yang bekerja dengan hati,” ucapnya.

Sebagai Ketua APEBSKID, organisasi yang menaungi para pengajar, penulis, dan pelaku seni budaya, Dr. Nursalim mengajak seluruh anggotanya untuk menumbuhkan semangat kepahlawanan dalam karya.

Menurutnya, tulisan, karya seni, dan gagasan yang mencerdaskan masyarakat adalah bentuk perjuangan yang sama mulianya dengan pengorbanan di masa lalu.

“Pena yang jujur bisa lebih tajam dari pedang. Karya yang lahir dari hati bisa menjadi cahaya bagi zaman,” ungkapnya.

Dalam konteks lokal, ia menyoroti pentingnya menjaga warisan budaya Melayu di Kepulauan Riau sebagai bentuk kepahlawanan kultural.

Menurutnya, mempertahankan bahasa, adat, dan nilai-nilai luhur Melayu adalah cara membela identitas bangsa di tengah arus globalisasi.

Pahlawan sejati adalah mereka yang menjaga akar budayanya agar bangsa tidak tercerabut dari jati diri,” katanya.

Dr. Nursalim juga menegaskan penting nya sikap lapang dada terhadap perjalanan waktu. Ia mengingatkan bahwa kehidupan berjalan dalam siklus, di mana setiap orang akan mendapat waktunya untuk berperan dan kemudian memberi tempat bagi generasi berikutnya.

“Ketika masa kita datang, berbuatlah sebaik-baiknya. Dan ketika masa itu berlalu, berlapang adalah, karena akan lahir orang-orang baru yang melanjut kan perjuangan.

Itulah makna sejati dari pepatah : ” setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya,” tegas Doktor Nursalim adalah Putra Turatea sulsel

Ia menutup refleksinya dengan pesan moral yang menyentuh. “Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang mereka yang gugur, tapi juga merenungkan apa yang bisa kita perjuangkan hari ini.

Sebab pahlawan sejati tidak hanya hidup di masa lalu mereka hidup di hati setiap orang yang berani berbuat kebaikan di zamannya.”

Dengan pandangan tersebut, Dr. Nursalim, M.Pd mengajak seluruh masyarakat Kepulauan Riau untuk menjadikan semangat kepahlawanan sebagai inspirasi dalam bekerja, berkarya, dan melayani.

Ia menegaskan bahwa selama masih ada orang yang berbuat dengan tulus untuk sesama, semangat para pahlawan akan terus hidup dari masa ke masa.(Redaksi AMN)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *