Jeneponto,Aliefmedia.co.id – Dedikasi panjang selama puluhan tahun di dunia pendidikan akhirnya mencapai titik akhir. Seorang kepala sekolah di Kabupaten Bantaeng menutup masa pengabdiannya dengan penuh haru, rasa syukur, dan pesan mendalam bagi generasi penerus.

Perjalanan pengabdian itu dimulai sejak Desember 1988, ketika pertama kali menginjakkan kaki sebagai tenaga pendidik di SMP Negeri 1. Sejak saat itu, berbagai pengalaman, tantangan, dan keberhasilan telah dilalui demi membangun kualitas pendidikan yang lebih baik.

Memasuki periode 2001 hingga 2012, ia menyaksikan perkembangan signifikan pada peserta didik.

Anak-anak menunjukkan kemajuan luar biasa, baik dari sisi akademik maupun aktivitas sekolah,” kenangnya.

Pada Juli 2012, ia mendapat amanah baru dengan dipindahkan ke sekolah lain untuk tujuan yang lebih besar: membangun dan mengembangkan kualitas sekolah. Setahun kemudian, tepatnya 2013, ia dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah.

Di bawah kepemimpinannya,

perubahan nyata mulai terlihat. Dari 2013 hingga 2017, sekolah yang dipimpinnya mengalami peningkatan pesat. Prestasi siswa meningkat, kualitas guru semakin baik, bahkan sekolah tersebut menjadi rujukan bagi sekolah lain.

Alhamdulillah, kami bisa membangun sesuai harapan masyarakat. Banyak sekolah datang untuk belajar dan menjalin kerja sama,” ujarnya.

Tahun 2018, ia kembali dimutasi ke SMP Negeri 3, sebelum akhirnya pada Januari 2019 hingga sekarang, ia kembali mengemban amanah sebagai kepala sekolah di tempat lain. Di sana, jumlah kelas berkembang pesat hingga mencapai 9 kelas, menandakan kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi.

Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Tahun 2020, pandemi COVID-19 menjadi ujian berat. Proses pembelajaran terganggu, efektivitas menurun, dan perkembangan siswa ikut terdampak.

Situasi saat itu sangat sulit. Pembelajaran tidak berjalan maksimal, dan kami merasakan dampaknya hingga sekarang,” ungkapnya dengan jujur.

Perpisahan yang Berat, Silaturahmi Tetap Terjaga

Menjelang masa purna bakti pada 31 Maret 2026, suasana haru begitu terasa. Ia mengaku sulit mengucapkan kata perpisahan kepada rekan kerja dan seluruh keluarga besar sekolah.

Saya sangat sulit mengatakan selamat berpisah. Kebersamaan ini terlalu berharga,” katanya.

Ia juga menyampaikan pesan menyentuh kepada semua pihak, termasuk rekan guru, siswa, dan masyarakat:

Jika selama ini ada perkataan atau tindakan saya yang kurang berkenan, saya mohon maaf sebesar-besarnya.”

Tak lupa, ia menekankan pentingnya silaturahmi dan kolaborasi, khususnya dengan insan pers yang selama ini menjadi mitra sekolah.

Saya sangat senang jika didatangi, singgah, dan bersilaturahmi. Mari terus membangun bersama tanpa batas,” ujarnya.

Warisan Pengabdian dan Harapan ke Depan

Meski mengaku tidak banyak menerima penghargaan formal, ia tetap bersyukur atas kepercayaan dan apresiasi dari masyarakat, termasuk penghargaan dalam pembinaan keagamaan serta kesempatan menunaikan ibadah haji.

Menutup masa baktinya, ia menitipkan harapan besar kepada kepala sekolah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan:

Semoga ke depan sekolah ini bisa lebih maju. Bangun komunikasi yang baik, termasuk dengan media, agar kerja sama tetap berjalan dan semakin kuat.”

Inspirasi dari Pengabdian Panjang
Kisah ini menjadi bukti bahwa pengabdian tulus di dunia pendidikan mampu membawa perubahan nyata. Bukan sekadar jabatan, tetapi dedikasi, kebersamaan, dan keikhlasan lah yang menjadi warisan terbesar.

(Tim Redaksi AMN)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *